Kebahagiaan Dunia Akherat

 


Dunia adalah tempat tinggal kita saat ini, susah senang kehidupan di masa yang akan datang diawali di kehidupan di dunia ini. Sebelum memasuki di alam akhirat manusia harus terlebih dahulu singgah menempati alam dunia yang fana ini untuk mencari modal dan untuk mencari bekal untuk kehidupan dimasa yang akan datang. Firman Allah dalam QS. Al Qasas ayat 77 berbunyi :

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ

 أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ  ٧٧

Artinya :  Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Sumber : Alquran dan terjemahnya Departemen Agama RI, CV. Jaya Sakti Surabaya / Surat Al Qasas ayat 77)

Sesuai isi ayat di atas bahwa yang paling utama manusia diperintahkan untuk mencari kebahagiaan akherat yaitu kebahagiaan hidup sesudah mati, karena akhir dari kehidupan ini adalah di akhirat, namun demikian manusia juga diingatkan oleh Allah SWT untuk tidak melupakan kebahagiaan dunia berupa nikmat yang dirasakan sekarang ini. Tidak dibenarkan kita hanya mencari bekal untuk akherat saja namun juga harus memikirkan, berusaha untuk mencari bekal hidup di dunia untuk kemaslahatan sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Begitu pula sebaliknya manusia tidak boleh hanya mencari kesenangan hidup di dunia saja, apalagi sampai melupakan kehidupan akhirat yang menjadi tempat akhir manusia hidup. Dampak manusia yang hanya mencari kesenangan dan kebahagiaan dunia saja adalah manusia akan kehilangan akhiratnya, manusia tidak punya bekal untuk kehidupan akherat bahkan manusia akan mendapat siksa di akhirat, sedangkan dampak manusia yang hanya mencari akherat manusia juga akan kehilangan kesenangan dan kebahagiaan hidup di dunia karena dalam kesehariannya tidak memanfaatkan kesempatan hidup di dunia. Oleh karenanya sebaiknya mencari kebahagiaan hidup di dunia dan mencari kebahagiaan hidup di akhirat hendaklah ada keseimbangan serta tidak melupakan salah satunya. Dalam QS. An Nisa ayat 134 Allah SWT berfirman :

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا فَعِندَ ٱللَّهِ ثَوَابُ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا 

Maknanya adalah Barang siapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Sumber : Alquran dan terjemahnya Departemen Agama RI, CV. Jaya Sakti Surabaya / Surat An Nisa' ayat 134)


Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda :

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا 


 Bunyinya : I'mal lidunyaaka ka  annaka ta'isyu abadan, wa'mal li akhiratika ka annaka tamuutu ghadan".

Yang artinya :Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.


Dalam hal ini Rasulullah memberi motivasi bahwa manusia harus semangat dan tetap semangat untuk menjalankan kehidupan ini dengan prinsip “untuk urusan dunia seakan-akan hidup selamanya dan untuk akherat hendaknya berprinsip seakan-akan mati besok”.







Comments

Post a Comment